Akademisi UMSU Sebut Transisi Energi Bersih di Dunia Usaha Masih Terabaikan, Pemerintah Diminta Turun Tangan

Jumat, 18 September 2026 | 00:12:31 WIB

MEDAN — Sylvia Vianty Ranita, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, menilai pemerintah perlu lebih aktif mendorong transisi energi bersih di kalangan pelaku usaha. Menurutnya, kesiapan Indonesia mengadopsi inovasi energi bersih dari sisi dunia usaha masih jauh dari harapan.

"Kalau saya lihat kesiapan Indonesia dalam mengembangkan dan mengikuti inovasi energi bersih khususnya dari sisi dunia usaha itu masih terabaikan," ujar Sylvia di Medan, Rabu.

Plastik Sekali Pakai Jadi Penghambat Utama di Sektor Bisnis

Sylvia mengidentifikasi kebiasaan berbisnis secara instan sebagai salah satu penyebab utama. Pelaku usaha, katanya, masih mengabaikan dampak penggunaan plastik terhadap lingkungan.

"Tantangan terbaru kita itu masih belum peduli tentang penggunaan plastik. Ketika berbisnis itu orang berpikir praktis. contohnya kita gunakan plastik," ucapnya.

Ia menawarkan pengurangan plastik sebagai langkah nyata yang bisa segera diterapkan. Kembali ke cara lama seperti memakai daun atau kertas untuk wadah makanan dinilainya sebagai alternatif yang layak dipertimbangkan.

"Dengan penggunaan misalnya tempat-tempat makan yang ramah lingkungan. Kembali lagi ke zaman dulu pakai daun atau kertas-kertas," katanya.

Pertumbuhan Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan Diminta Berjalan Seiring

Sylvia menyoroti dilema yang kerap dihadapi daerah berkembang. Di satu sisi, pendapatan masyarakat dan perekonomian daerah perlu terus tumbuh. Di sisi lain, aspek lingkungan sering kali dikorbankan demi mengejar target ekonomi tersebut.

"Satu hal yang cukup sulit atau kompleks menghadapi situasi ketika satu sisi usaha harus ditingkatkan, pendapatan masyarakat harus bertambah, perekonomian harus membaik, tapi satu sisi lingkungan tadi bisa terabaikan," jelasnya.

Pandangan itu sejalan dengan dorongan Kementerian Lingkungan Hidup yang meminta dunia usaha membangun budaya inovasi berkelanjutan. Fokus barunya mencakup dampak lingkungan dan sosial yang mendukung transisi energi bersih.

Kementerian Lingkungan Hidup Dorong Inovasi Berkelanjutan

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menyatakan dunia tengah menghadapi krisis yang menuntut inovasi. Inovasi itu, menurutnya, tidak hanya untuk bersaing di pasar, tetapi juga memperkuat ketangguhan sosial dan lingkungan di tengah tantangan global.

"Melalui berbagai inovasi yang dihadirkan dunia usaha, dapat mendorong kontribusi nyata terhadap pemulihan lingkungan, pengelolaan sampah, rehabilitasi daerah aliran sungai, penanaman pohon, transisi energi bersih, serta pengembangan ekonomi hijau yang menjadi bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan nasional," kata Jumhur.

Bagi pelaku usaha di Sumatera Utara, khususnya sektor kuliner dan ritel yang masih bergantung pada kemasan plastik, dorongan ini berpotensi mengubah cara berbisnis. Peralihan ke kemasan ramah lingkungan menuntut penyesuaian biaya dan rantai pasok, tetapi membuka peluang usaha baru di sektor ekonomi hijau.

Terkini