Harga Batu Bara Dunia Melonjak Tajam Dipicu Permintaan China dan Kebijakan Ekspor Indonesia

Kamis, 05 Februari 2026 | 10:31:18 WIB
Harga Batu Bara Dunia Melonjak Tajam Dipicu Permintaan China dan Kebijakan Ekspor Indonesia

JAKARTA - Harga batu bara melonjak setelah sebelumnya mengalami penurunan dua hari beruntun. Pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, harga ditutup di posisi US$ 117,5 per ton atau naik 2,03%.

Kenaikan ini menjadi kabar positif setelah harga batu bara anjlok 2,04% selama dua hari sebelumnya. Lonjakan harga menandai level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Permintaan yang kuat dari pembangkit listrik, khususnya di China, menjadi faktor utama penguatan harga. Negara tersebut masih menjadi konsumen batu bara terbesar di dunia dan terus menopang pasar global.

Peran China dalam Kenaikan Permintaan Batu Bara

China diperkirakan akan mengoperasikan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) baru tahun ini. Jumlah ini di luar lebih dari 400 unit yang saat ini masih dalam tahap konstruksi.

Langkah tersebut dilakukan untuk memasok kebutuhan listrik domestik sekaligus mendukung ekspor. Meskipun Beijing berkomitmen mengurangi penggunaan batu bara sebelum 2030, ketergantungan pada sumber energi ini masih tinggi.

Kenaikan permintaan listrik global juga didorong oleh pusat data kecerdasan buatan (AI) dan pengisian kendaraan listrik (EV). Konsumsi batu bara meningkat karena sektor-sektor ini memerlukan suplai listrik yang stabil.

Di sisi lain, produksi batu bara Indonesia diproyeksikan turun menjadi sekitar 600 juta ton tahun ini. Angka ini menurun dari hampir 800 juta ton pada tahun lalu akibat melemahnya impor dari China dan India.

Harga batu bara termal di China cenderung bergerak datar dalam beberapa hari terakhir. Melemahnya permintaan menjelang periode libur membuat pergerakan harga tidak terlalu fluktuatif.

Aktivitas pembelian dari pembangkit listrik dan trader mulai melambat. Sebagian besar konsumen telah mengamankan stok lebih awal untuk kebutuhan selama libur.

Sementara itu, utilitas listrik bersikap hati-hati menambah pasokan. Permintaan musiman yang belum menunjukkan lonjakan signifikan membuat pembelian lebih terbatas.

Faktor Pasokan dan Stabilitas Produksi

Produksi tambang relatif stabil di wilayah penghasil utama. Tidak adanya gangguan besar menjaga ketersediaan batu bara tetap longgar.

Kondisi ini membatasi potensi kenaikan harga yang drastis. Di sisi lain, harga tidak jatuh tajam karena biaya produksi dan transportasi tetap menjadi penopang.

Beberapa perusahaan tambang Indonesia menangguhkan ekspor batu bara spot. Langkah ini menyusul pemangkasan kuota produksi melalui RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) yang diberlakukan pemerintah.

Pemotongan kuota membuat volume produksi yang diizinkan jauh lebih kecil dibanding tahun sebelumnya. Akibatnya, produsen lebih memprioritaskan pemenuhan kontrak jangka panjang daripada penjualan spot yang lebih fleksibel.

Kebijakan ini terutama berdampak pada tambang skala menengah dan kecil. Pasokan batu bara kualitas menengah hingga rendah yang biasanya untuk pasar spot Asia menjadi terbatas.

Pembeli luar negeri mulai kesulitan mendapatkan pasokan spot dari Indonesia. Akibatnya, mereka berpotensi mengalihkan pembelian ke negara lain dengan harga kontrak jangka pendek lebih tinggi.

Pasar menilai ekspor spot Indonesia akan tetap terbatas hingga ada penyesuaian RKAB atau kejelasan kebijakan lanjutan. Hal ini memiliki implikasi langsung terhadap dinamika harga dan pasokan global.

Meskipun pemerintah memperketat kuota produksi, realisasi penurunan output kemungkinan lebih terbatas. Faktor operasional dan fleksibilitas produsen membuat pengurangan produksi administrasi tidak sepenuhnya tercapai.

Insentif untuk tetap memproduksi tinggi tetap ada. Harga batu bara yang menarik membuat produsen besar mempertahankan produksi meski ada batasan kuota.

Kebutuhan domestik (DMO) dan permintaan ekspor yang stabil juga menjadi penahan penurunan produksi. Pasokan batu bara Indonesia ke pasar global diprediksi tetap relatif kuat.

Dampak pemangkasan produksi Indonesia terhadap harga global kemungkinan lebih kecil dari ekspektasi awal. Selama tidak ada gangguan besar, output hanya turun tipis, bukan signifikan.

Dinamika Global dan Pergerakan Saham Tambang

Saham Yancoal Australia melonjak lebih dari 7% pada perdagangan sore. Kenaikan ini menyusul laporan China mempercepat pembangunan PLTU meski mengembangkan energi terbarukan.

Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Global Energy Monitor melaporkan emisi CO₂ sektor listrik China menurun pada 2023. Namun, proposal pembangunan PLTU baru dan reaktivasi unit lama mencapai rekor 161 gigawatt.

China juga mengoperasikan kapasitas PLTU baru sebesar 78 gigawatt. Jumlah ini lebih tinggi dibanding penambahan bersih kapasitas batu bara India antara 2015-2024, meski India memiliki armada PLTU terbesar kedua di dunia.

Lonjakan pembangunan PLTU di China menegaskan peran batu bara dalam mendukung perekonomian. Walau investasi energi bersih meningkat, ketergantungan pada batu bara tetap signifikan.

Prospek Harga dan Pasokan Batu Bara

Harga batu bara dunia diprediksi tetap tinggi meski pasokan Indonesia terbatas. Permintaan dari China dan India akan tetap menjadi faktor penentu utama.

Pasar global tetap memantau kebijakan produksi Indonesia dan kapasitas PLTU China. Lonjakan harga jangka pendek kemungkinan terbatas, namun tren permintaan jangka panjang tetap kuat.

Perusahaan tambang perlu menyesuaikan strategi produksi dan ekspor untuk memaksimalkan keuntungan. Produsen juga harus mempertimbangkan keseimbangan antara kuota pemerintah dan permintaan pasar global.

Secara keseluruhan, harga batu bara dunia menunjukkan tren penguatan. Faktor utama adalah permintaan dari China, kebijakan ekspor Indonesia, dan kebutuhan energi global yang meningkat akibat sektor industri dan teknologi baru.

Kenaikan ini menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar global. Pasokan yang stabil dan permintaan kuat akan terus menahan harga di level tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Terkini