Harga Daging Sapi Meugang Ramadan 1447 Hijriah di Aceh Tenggara Tetap Rp150 Ribu per Kg

Kamis, 19 Februari 2026 | 08:52:07 WIB
Harga Daging Sapi Meugang Ramadan 1447 Hijriah di Aceh Tenggara Tetap Rp150 Ribu per Kg

JAKARTA - Tradisi meugang kembali menghidupkan denyut ekonomi masyarakat di Kabupaten Aceh Tenggara menjelang Ramadan 1447 Hijriah. Di tengah meningkatnya aktivitas jual beli, harga daging sapi dilaporkan tetap stabil di angka Rp 150.000 per kilogram.

Stabilnya harga tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi masyarakat yang bersiap menyambut bulan suci. Pasalnya, harga daging sapi tahun ini sama dengan harga daging sapi tahun lalu saat momen meugang Ramadan.

Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas pasar tradisional berlangsung lebih ramai dari hari biasa. Warga terlihat memadati Pasar Tradisional Lawe Sigala-gala untuk membeli daging meugang dan berbagai kebutuhan lainnya jelang Ramadan tahun ini.

Keramaian tersebut menjadi gambaran kuatnya tradisi meugang yang sudah mengakar di tengah masyarakat Aceh. Momentum ini bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan menyambut bulan puasa.

Harga Stabil, Penjual Pastikan Tidak Ada Kenaikan

Para pedagang memastikan tidak ada perubahan harga dibandingkan tahun sebelumnya. Daging sapi meugang tetap dijual Rp 150.000 per kilogram tanpa kenaikan sedikit pun.

"Harga ini tidak ada kenaikan dan sama seperti tahun yang lalu. Saat ini animo masyarakat tinggi untuk membeli daging sapi meugang," ujar Ardi, seorang penjual daging sapi meugang di Pasar Tradisional Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara.

Menurut Ardi, tingginya minat beli masyarakat terlihat sejak pagi hari. Lapak-lapak penjual daging dipenuhi pembeli yang ingin mendapatkan bagian terbaik untuk kebutuhan keluarga.

Ia menambahkan bahwa kondisi harga yang stabil turut mendorong daya beli warga tetap terjaga. Situasi ini berbeda dengan kekhawatiran sebagian masyarakat yang biasanya mengantisipasi kenaikan harga menjelang Ramadan.

Dampak Bantuan Meugang bagi Korban Bencana

Ardi juga mengungkapkan bahwa faktor lain yang memengaruhi tingginya pembelian adalah adanya bantuan bagi korban bencana. Para korban banjir dan banjir bandang telah mendapatkan bantuan uang meugang yang diuangkan sebesar Rp 450.000 per kepala keluarga (KK).

Bantuan tersebut memberikan ruang bagi masyarakat terdampak untuk tetap merayakan tradisi meugang seperti tahun-tahun sebelumnya. Dengan adanya dukungan dana itu, mereka tetap bisa membeli daging sapi untuk kebutuhan keluarga.

Kondisi ini membuat perputaran uang di pasar tradisional semakin terasa. Pedagang pun merasakan dampak positif dari kebijakan bantuan tersebut.

Tradisi meugang sendiri memiliki makna penting bagi masyarakat Aceh, termasuk di Kabupaten Aceh Tenggara. Momentum ini biasanya dimanfaatkan untuk memasak hidangan istimewa sebelum memasuki Ramadan.

Pembelian Dinilai Masih Stabil Dibanding Tahun Lalu

Hal senada diungkapkan Syaifullah, penjual daging sapi lainnya di daerah itu. Ia menilai pembelian daging sapi meugang tahun ini dibandingkan tahun lalu masih tergolong stabil.

Menurutnya, tidak ada lonjakan signifikan maupun penurunan drastis dalam jumlah pembeli. Situasi ini menunjukkan daya beli masyarakat relatif terjaga.

"Ini juga dilihat dari harga daging sapi meugang masih tergolong sangat murah hanya mencapai Rp 150.000 per kilogram. Dan, daging yang mayoritas di jualan di pasaran daging sapi," katanya.(*)

Syaifullah menilai harga Rp 150.000 per kilogram masih tergolong sangat murah untuk momen meugang. Apalagi mayoritas daging yang dijual di pasaran merupakan daging sapi segar.

Kondisi pasar yang ramai namun harga tetap stabil menjadi kombinasi yang menguntungkan bagi penjual maupun pembeli. Pedagang mendapatkan perputaran penjualan yang baik, sementara masyarakat tetap bisa membeli tanpa terbebani kenaikan harga.

Pasar Tradisional Dipadati Warga Jelang Ramadan

Suasana Pasar Tradisional Lawe Sigala-gala tampak lebih padat dibanding hari biasa. Warga datang silih berganti untuk membeli daging meugang dan berbagai kebutuhan lainnya.

Aktivitas tawar-menawar berlangsung di hampir setiap lapak penjualan. Meski ramai, suasana tetap kondusif dan penuh semangat kebersamaan.

Tradisi meugang memang selalu menjadi momentum penting di Aceh menjelang Ramadan. Pada hari tersebut, hampir setiap keluarga berupaya menyediakan hidangan berbahan dasar daging untuk disantap bersama.

Stabilnya harga tahun ini memberikan kepastian bagi masyarakat dalam merencanakan pengeluaran. Tidak adanya kenaikan harga dibanding tahun lalu membuat warga merasa lebih tenang.

Bagi pedagang, kondisi ini juga mencerminkan kestabilan pasokan dan distribusi daging sapi. Ketersediaan barang yang mencukupi membantu menjaga harga tetap di angka yang sama seperti tahun sebelumnya.

Dengan harga Rp 150.000 per kilogram, daging sapi meugang di Kabupaten Aceh Tenggara tetap menjadi pilihan utama masyarakat. Dominasi daging sapi di pasaran menunjukkan tingginya permintaan terhadap komoditas tersebut.

Momentum meugang Ramadan 1447 Hijriah pun berlangsung dengan semarak. Stabilitas harga dan tingginya animo pembeli menjadi warna tersendiri dalam persiapan menyambut bulan suci.

Tradisi yang terus dijaga ini bukan hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga ekonomi lokal. Perputaran transaksi di pasar tradisional menjadi bukti hidupnya aktivitas perdagangan menjelang Ramadan.

Dengan harga yang tetap dan pembelian yang stabil, masyarakat Aceh Tenggara dapat menjalankan tradisi meugang tanpa kekhawatiran lonjakan biaya. Situasi ini diharapkan terus terjaga hingga memasuki bulan puasa.

Terkini