JAKARTA — Kapten PNB Ajeng Tresna mencatatkan sejarah sebagai pilot perempuan pertama di Skadron VIP Skadron Udara 17. Unit ini merupakan skadron elite TNI AU yang bertugas menerbangkan pesawat kepresidenan, termasuk untuk melayani penerbangan dinas Presiden Prabowo Subianto.
Di lingkungan militer yang mayoritas dihuni laki-laki, Ajeng mengakui keraguan terhadap kapasitas perempuan masih kerap muncul. Namun, ia menegaskan bahwa kemampuan seorang prajurit tidak ditentukan oleh gender, melainkan pembuktian di lapangan.
"Pasti pernah, dan itulah challenge kita sebagai perempuan ya, hidup di antara lingkungan laki-laki yang mana kita tuh minoritas di situ," ujar Ajeng dalam program QnA Metro TV, Rabu (26/8/2026).
Jalur Karier: Dari Paskibraka ke Kokpit Pesawat Kepresidenan
Menariknya, Ajeng tidak pernah bercita-cita menjadi pilot sejak kecil. Keinginannya untuk menjadi tentara justru tumbuh saat duduk di bangku SMA setelah mengikuti Paskibraka Nasional. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada pendidikan semi-militer yang membentuk kedisiplinan.
Latar belakang keluarga turut berperan. Ayahnya yang merupakan purnawirawan TNI telah mengenalkannya pada kehidupan prajurit sejak dini. "Kalau boleh jujur sebenarnya saya tidak pernah menyangka dan tidak pernah me-planning-kan dalam perjalanan hidup saya akan menjadi seorang pilot," katanya.
Setelah resmi masuk TNI AU, Ajeng kemudian dipilih dan diproyeksikan menjadi penerbang. Dari titik inilah ketertarikannya pada dunia penerbangan mulai tumbuh dan berkembang hingga akhirnya ia dipercaya bergabung dengan Skadron VIP.
Menjawab Keraguan dengan Kinerja, Bukan Protes
Ajeng tidak menampik bahwa asumsi tentang perempuan yang dianggap tidak mampu atau tidak cukup kuat kerap menghampirinya. Alih-alih berlarut dalam keraguan, ia memilih pendekatan yang lebih konkret: membuktikan lewat pekerjaan.
"Itu pasti ada asumsi seperti itu, tapi balik lagi sebenarnya ke diri kita bagaimana kita membuktikan kepada mereka sih, bahwa kita ini mampu," ujarnya.
Status Perdana Justru Dipandang sebagai Keistimewaan
Status sebagai pilot perempuan pertama di Skadron VIP tidak ia pandang sebagai beban. Ajeng justru melihatnya sebagai tanggung jawab sekaligus peluang yang tidak dimiliki banyak orang.
"Tergantung dari kita sendiri sebenarnya. Kalau saya menganggap itu sebagai beban saya bisa menganggap sebagai beban," tuturnya.
Ia menambahkan, ketika profesi dijalani dengan penuh tanggung jawab dan dinikmati, posisi tersebut justru berubah menjadi sebuah keistimewaan. "Saya melihatnya jadi privilege yang saya punya tapi yang orang lain enggak punya," katanya.
Kiprah Ajeng di Skadron Udara 17 menegaskan bahwa ruang bagi perempuan di lingkungan militer, khususnya di sektor penerbangan, semakin terbuka lebar.