AS Sahkan UU Sanksi Rusia, Pembeli Minyak Terancam Tarif 500 Persen

AS Sahkan UU Sanksi Rusia, Pembeli Minyak Terancam Tarif 500 Persen

KANALEKONOMI.ID — Kongres Amerika Serikat mengesahkan undang-undang yang memberi Presiden Donald Trump kewenangan luas menjatuhkan sanksi atas ekspor minyak mentah Rusia sekaligus tarif tinggi bagi negara pembeli energi Moskow. Langkah ini diproyeksikan menghantam China dan India, dua pembeli terbesar minyak Rusia. India menyatakan akan mengambil segala langkah perlu untuk melindungi kepentingan dagangnya.

Dewan Perwakilan Rakyat AS meloloskan RUU bertajuk "Lindsey O Graham Sanctioning Russia Act of 2026" dan mengirimkannya ke meja Presiden Donald Trump untuk ditandatangani. Undang-undang ini menjadi tindakan paling signifikan Washington terhadap Moskow sejak Trump kembali ke Gedung Putih.

RUU itu dinamai sesuai mendiang Senator Lindsey O Graham, pendukung setia Ukraina hingga wafat pada Juli lalu. Tujuannya memutus jalur ekonomi yang selama ini membiayai perang Rusia di Ukraina, yang kini memasuki tahun kelima.

Sanksi terhadap Putin dan Industri Pertahanan Rusia

Ketentuan utama UU mencakup sanksi baru terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin serta lebih dari 20 pejabat dan perusahaan yang bekerja dengan industri pertahanan Rusia. Armada bayangan tanker minyak Rusia dan jaringan yang dipakai menghindari sanksi energi internasional juga masuk target.

RUU memberi presiden kewenangan menjatuhkan sanksi lewat International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Dengan itu, Trump bisa menerapkan tarif hingga 100 persen atas ekspor ke AS dari lima pembeli teratas energi atau peralatan militer Rusia, termasuk negara yang memfasilitasi penghindaran sanksi.

Tarif hingga 500 persen dapat dikenakan pada impor Rusia langsung ke AS. Sepanjang 2025, AS mengimpor barang senilai USD 3,8 miliar dari Rusia.

China dan India Jadi Sasaran Utama

China dan India adalah dua pembeli terbesar energi Rusia dan kemungkinan paling terdampak oleh UU baru ini. Data Agustus dari lembaga riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan China membeli sekitar separuh ekspor minyak mentah Rusia, disusul India dengan 37 persen.

Turki dan Uni Eropa masing-masing mengimpor sekitar 5 persen, menurut laporan yang sama.

Posisi India: Lindungi Kepentingan Dagang

Beberapa jam setelah Kongres AS menyetujui RUU, Kementerian Luar Negeri India menyatakan New Delhi telah mengangkat isu ini ke berbagai mitra dialog AS dalam beberapa bulan terakhir. India, kata kementerian itu, telah menyampaikan implikasi potensial terhadap hubungan bilateral dan pasar energi internasional.

"The Indian side has also made clear its determination to take all necessary measures to protect its trade and economic interests," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri India. Pemerintah India akan bekerja erat dengan asosiasi dagang dan industri untuk menangani dampak UU tersebut.

Tekanan bisa lebih berat bagi India. Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan meningkatnya ketergantungan India pada impor minyak mentah berdampak besar terhadap keamanan energinya. Mengganti pasokan Rusia berarti India harus mencari minyak dari produsen yang lebih jauh, termasuk di Amerika.

Data pelacakan tanker IEA menunjukkan impor minyak mentah Rusia oleh India turun ke 1,1 juta barel per hari pada Januari, level terendah sejak November 2022 dan turun dari rata-rata 1,7 juta barel per hari sepanjang 2025. Sebaliknya, pengiriman minyak mentah Rusia ke China melonjak ke rekor tertinggi pada bulan yang sama.

China Tolak Yurisdiksi Ekstra Teritorial

China menghadapi pilihan sulit antara menikmati minyak Rusia yang murah dan menanggung penalti dagang AS yang berat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan Beijing secara sistematis menolak yurisdiksi ekstra teritorial yang tidak memiliki dasar hukum internasional dan tidak mendapat otorisasi Dewan Keamanan PBB.

"China systematically opposes extraterritorial jurisdiction, which lacks a basis in international law and does not have the authorisation of the United Nations Security Council," kata Guo Jiakun.

Beijing, lanjut Guo, selalu menjalankan kerja sama ekonomi dan dagang normal dengan negara-negara di dunia atas dasar kesetaraan dan saling menguntungkan. Kerja sama itu, tegasnya, tidak diarahkan ke pihak ketiga dan tidak tunduk pada intervensi atau pemaksaan pihak ketiga.

Keunggulan China: Jalur Pipa Darat

China punya satu keunggulan penting dibanding India. Tidak semua minyak Rusia tiba lewat laut. China menerima minyak mentah melalui sistem pipa Eastern Siberia-Pacific Ocean, jalur pasokan darat yang tidak terpengaruh gangguan di Selat Hormuz.

Perhitungan kedua negara berubah sejak perang dengan Iran dimulai. Gangguan pasokan Timur Tengah membuat minyak Rusia justru makin penting bagi pembeli Asia, bukan sebaliknya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index