JAKARTA - Awal 2026 menjadi momentum sejumlah emiten untuk melancarkan aksi korporasi anorganik. Salah satunya PT Petrosea Tbk. (PTRO) yang menempuh ekspansi dengan mengakuisisi saham mayoritas dua perusahaan jasa pelabuhan.
Sekretaris Perusahaan Petrosea, Anto Broto, menyampaikan perusahaan mengambil alih 55% saham PT Vista Maritim Asia dan 55% saham PT Nusantara Arung Samudera. Pengambilalihan saham ini diharapkan memperkuat sinergi operasional melalui integrasi rantai nilai pit-to-port dan mendukung ekspansi usaha perseroan.
Akuisisi saham PT Vista Maritim Asia dilakukan melalui entitas anak tidak langsung, PT Petrosindo Sinergi Alur (PSA), dari Kastomo dan Jalu Yogo Santoso senilai Rp550 juta. Sementara PT Nusantara Arung Samudera diambil alih melalui PT Petrosindo Sinergi Samudera dengan nilai Rp550 juta dari pemegang saham sebelumnya.
Manajemen Petrosea menilai aksi ini akan berdampak positif terhadap kinerja operasional perseroan. Strategi ini sejalan dengan upaya meningkatkan sinergi antarentitas dalam perseroan dan memperluas jaringan layanan kepelabuhanan.
Akuisisi Strategis Harta Djaya Karya di Sektor Batu Bara
Selain Petrosea, PT Harta Djaya Karya Tbk. (MEJA) juga menyiapkan akuisisi besar. Perseroan mengincar 45% saham tambang batu bara PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) yang memiliki aset konsesi seluas 11.640 hektare di Sumatera Selatan.
Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto S, menjelaskan nilai akuisisi awal sebesar Rp1,6 triliun, lebih besar dibanding aset perseroan per Juni 2025 yang tercatat Rp107,08 miliar. Nilai akhir akuisisi masih dapat berubah mengikuti hasil penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang sedang dalam proses penunjukan.
MEJA menekankan bahwa kepemilikan 45% saham TCP diharapkan memberikan manfaat valuasi konkret bagi perseroan dan pemegang saham. Langkah ini menjadi bagian dari strategi ekspansi sektor pertambangan untuk memperkuat portofolio aset dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Akuisisi Distributor Mainan oleh PT Multitrend Indo Tbk.
Senada dengan sektor pertambangan dan jasa pelabuhan, PT Multitrend Indo Tbk. (BABY) bergerak di bidang ritel dan distribusi. Perseroan akan mengambil alih distributor mainan PT Emway Globalindo (EGI) senilai Rp269,98 miliar melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I) dan fasilitas pinjaman bank.
Pengambilalihan dilakukan melalui dua mekanisme, yakni penyetoran modal dalam bentuk selain uang (inbreng saham) serta pembelian saham langsung. Manajemen BABY menilai langkah ini akan meningkatkan kapabilitas keuangan dan operasional perseroan secara signifikan.
PT Emway Globalindo merupakan distributor mainan terkemuka di Indonesia. Dengan akuisisi ini, BABY berharap dapat memperluas portofolio usaha sekaligus memperkuat posisi di pasar ritel mainan nasional.
Pengembangan Layanan Human-Tech melalui Akuisisi INET
Di sektor teknologi, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) menargetkan akuisisi saham PT Personel Alih Daya Tbk. (PADA) sebesar 53,57% dengan nilai transaksi Rp106,39 miliar. Direktur INET, Willy Usulangi, menyebut transaksi ini sebagai langkah strategis memperluas portofolio usaha perseroan.
Akuisisi PADA memungkinkan INET mengintegrasikan layanan digital dan layanan operasional berbasis sumber daya manusia. Dengan demikian, perseroan menciptakan ekosistem human-tech yang terintegrasi untuk mendukung pertumbuhan bisnis berbasis teknologi dan SDM.
Langkah ekspansi ini sejalan dengan tren korporasi memanfaatkan sinergi antara sektor teknologi dan layanan outsourcing. INET berharap integrasi ini meningkatkan daya saing dan menarik peluang bisnis baru yang berbasis inovasi digital.
Secara keseluruhan, awal 2026 menunjukkan gelombang akuisisi di berbagai sektor industri. Emiten dari jasa pelabuhan, pertambangan, ritel hingga teknologi memanfaatkan momentum untuk memperkuat sinergi, memperluas portofolio, dan meningkatkan kapasitas operasional.
Strategi akuisisi menjadi alternatif pertumbuhan bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan pasar. Aksi anorganik ini juga diharapkan dapat meningkatkan nilai bagi pemegang saham dan mendorong kinerja jangka panjang.
Dengan berbagai langkah korporasi yang sudah dan sedang berjalan, pelaku pasar perlu mencermati dampak integrasi terhadap struktur perusahaan. Monitoring terhadap kinerja pasca-akuisisi akan menjadi indikator utama efektivitas strategi ekspansi ini.